Selasa, 30 Juni 2015

Metode TOPSIS

Metode  TOPSIS  adalah  salah  satu  metode  pengambilan  keputusan multikriteria yang pertama kali diperkenalkan oleh Yoon dan Hwang  pada tahun 1981.  Metode  ini  merupakan  salah  satu  metode  yang  banyak  digunakan  untuk menyelesaikan pengambilan  keputusan  secara  praktis.  TOPSIS  memiliki  konsep dimana alternatif  yang terpilih merupakan alternatif terbaik  yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif dan jarak terjauh dari solusi ideal negatif [4]. Semakin  banyaknya  faktor  yang  harus  dipertimbangkan  dalam  proses pengambilan  keputusan,  maka  semakin  relatif  sulit  juga  untuk  mengambil
keputusan  terhadap  suatu  permasalahan.  Apalagi  jika  upaya  pengambilan keputusan  dari  suatu  permasalahan  tertentu,  selain  mempertimbangkan  berbagai faktor/kriteria  yang  beragam,  juga  melibatkan  beberapa  orang  pengambil keputusan.  Permasalahan  yang  demikian  dikenal  dengan  permasalahan  multiple criteria decision making  (MCDM).  Dengan kata lain, MCDM juga dapat disebut sebagai  suatu  pengambilan  keputusan  untuk  memilih  alternatif  terbaik  dari sejumlah  alternatif  berdasarkan  beberapa  kriteria  tertentu.  Metode  TOPSISdigunakan  sebagai  suatu  upaya  untuk  menyelesaikan  permasalahan  multiple criteria  decision  making.  Hal  ini  disebabkan  konsepnya  sederhana  dan  mudah dipahami, komputasinya  efisien  dan  memiliki  kemampuan  untuk  mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan.
Langkah-langkah Metode TOPSIS
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan menggunakan metode TOPSIS adalah sebagai berikut [4]:
  1. Menggambarkan  alternatif  (m)  dan  kriteria  (n)  ke  dalam  sebuah  matriks, dimana  Xij adalah  pengukuran  pilihan  dari  alternatif  ke-i  dan  kriteria  ke-j.Matriks ini dapat dilihat pada persamaan satu.
    matriks1 
  2. Membuat matriks R yaitu matriks keputusan ternormalisasi Setiap  normalisasi  dari  nilai  rij dapat  dilakukan  dengan  perhitungan menggunakan persamaan dua.
    matriks2
  3. Membuat pembobotan pada matriks yang telah dinormalisasi Setelah dinormalisasi, setiap kolom pada matriks R dikalikan dengan bobotbobot (wj) untuk menghasilkan matriks pada persamaan tiga.
    matriks3
  4. Menentukan nilai solusi ideal positif dan solusi ideal negatif. Solusi ideal dinotasikan A+, sedangkan solusi ideal negatif dinotasikan A-. Persamaan untuk menentukan solusi ideal dapat dilihat pada persamaan empat.
    matriks4
  5. Menghitung separation measure. Separation measure ini merupakan
    pengukuran jarak dari suatu alternatif ke solusi ideal positif dan solusi ideal
    negatif.
    –  Perhitungan solusi ideal positif dapat dilihat pada persamaan lima :
    matriks5
    –  Perhitungan solusi ideal negatif dapat dilihat pada persamaan enam :matriks6
  6. Menghitung  nilai  preferensi  untuk  setiap  alternatif. Untuk  menentukan ranking tiap-tiap alternatif yang ada maka perlu dihitung terlebih dahulu nilai preferensi  dari  tiap  alternatif.  Perhitungan  nilai  preferensi  dapat  dilihat melalui persamaan tujuh.
    matriks7Setelah  didapat  nilai  Ci+,  maka  alternatif  dapat  diranking  berdasarkan urutan  Ci+.  Dari  hasil  perankingan  ini  dapat  dilihat  alternatif  terbaik  yaitu alternatif yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal dan berjarak terjauh dari solusi ideal negatif.

Pengertian metode AHP(Analytic Hierarchy Process) dan Contoh Penerapannya pada kasus sederhana

 AHP(Analytic Hierarchy Process) merupakan salah satu teknik dalam pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan, ada beberapa kriteria sebagai dasar penilaian, dan juga akan dihadapkan pada banyak alternative pilihan. Jika alternative pilihan tersebut hanya ada dua, kemungkinan masih mudah bagi kita untuk memilih. Tetapi, jika alternative pilihan banyak maka, cukup sulit bagi kita untuk memutuskannya. AHP merupakan teknik yang dikembangkan untuk membantu mengatasi kesulitan. 
Langkah-langkah perhitungan metode AHP
Berikut ini adalah langkah demi langkah yang harus dilakukan untuk menghitung penyelesaian dengan menggunakan metode AHP, namun sebelumnya tentukan dahulu tujuan atau goal permasalan kasus ( langkah awal), tentukan Kriteria dan alternatif, selanjutnya perhitungannya di mulai dengan langkah berikut ini: 

  1. Membuat matriks perbandingan kriteria dengan nilai yang telah di inputkan
  2. Mencari bobot vektor prioritas, sebelum mencari nilai ini, Anda harus menjumlahkan setiap kolom sel pada kolom matriks di bagi dengan jumlah kolom pada setiap selnya.
  3. Mencari lambda
  4. Mencari Konsitensi Index (CI)
  5. Mencari Konsistensi Rasio (CR), Tingkat konsistensi apabila nilai CR <0.1 
    Dalam AHP ada beberapa prinsip penting yaitu :

    1. Decomposition yaitu membuat hirarki. Jadi sistem yang kompleks dipecah menjadi sederhana.
    Dekomposisi
    Dekomposisi

    2. Comparative judgment yaitu penilaian kriteria dan alternatif.
    Kriteria dan alternatif sering ditunjukkan dengan matrik berpasangan. Menurut Saaty (1988) digunakan skala perbandingan sebagai ukuran seperti pada skala di bawah ini yang menyatakan intensitas kepentingan.
    1 : sama penting (equal)
    3 : lebih penting sedikit (slightly)
    5 : lebih penting secara kuat (strongly)
    7 : lebih penting secara sangat kuat (very strong)
    9 : lebih penting secara ekstrim (extreme)
    3. Synthesis of priority, menentukan priorotas dari elemen kriteria. Hal ini sering kali dipadang sebagai bobot atau kontribusi terhadap tujuan pengambilan kuputusan.
    4. Logical Consistency
    Sekarang mari kita mencoba menerapkan AHP pada contoh kasus sederhana. Kasus yang kita ambil adalah memutuskan tentang SESUATU yang mempunyai 3 kriteria yaitu Kriteria A, B dan C.
    Langkah 1:
    Buatkan matrik berpasangan dan berikan tingkat kepentingannya seperti skala yang sudah dibahas di atas. Tidak perlu seluruh angka diisi. Cukup diagonal ke atas saja (lihat gambar di bawah) ini :
    Skala penilaian berpasangan
    Skala penilaian berpasangan
    Kenapa muncul angka 1 pada diagonal matrik di atas ? Tentu saja, kan kriteria yang sama dibandingkan . Angka 3 pada Kriteria B menyatakan bahwa Kriteria lebih penting sedikit daripada Kriteria A demikian seterusnya. Terus bagaimana cara mengisi angka pada kotak yang kosong ???  Tinggal dibagi saja. Misalnya, kita akan mengisi elemen Kriteria A vs Kriteria B. Maka kita cukup mengambil nilai Kriteria A vs Kriteria A (yaitu 1), kemudian dibagi dengan nilai Kriteria B vs Kriteria A (yaitu 3) menghasilkan 0.33333  lihat gambar di bawah ini :
    Penilaian Berpasangan Lengkap
    Penilaian Berpasangan Lengkap
    Langkah 2 :
    Lakukan normalisasi. Caranya dengan membagi setiap elemen dengan jumlah masing-masing kolom.
    Jumlah Kolom
    Jumlah Kolom
    Normalisasi
    Normalisasi
    Kenapa bisa dapat angka normal seperti di atas ? ya coba saja 1 dibagi 2.3333 .. pasti hasilnya 0.42857
    Langkah 3:
    Cari rata-rata setiap kriteria.  Caranya, jumlahkan tiap baris kemudian dibagi dengan jumlah kriteria yang ada. Untuk kasus ini jumlah kriterianya 3 (A, B, C).
    Rata-rata
    Rata-rata

    MAKA DAPATLAH VECTOR BOBOT yaitu :
    W1= 0.428571429
    W2= 0.365079365
    W3= 0.206349206
    Langkah 4:
    Kalikan bobot dengan matrik berpasangan tadi. Mana yang paling besar, itulah yang paling penting
    Kalikan Bobot dengan Matrik Berpasangan
    Kalikan Bobot dengan Matrik Berpasangan

    Kalau di atas, maka tentunya urutannya adalah Kriteria A, Kriteria B dan Kriteria C (kebetulan saja berurut )
    PENGUJIAN
    Langkah 1:
    Kalikan bobot tadi dengan matrik berpasangan pertama kali.
    Langkah 2:
    cari nilai t dengan cara bagilah hasil pada langkah 1 tadi dengan masing-masing bobotnya, kemudian dijumlah semuanya. Setelah itu bagilah dengan jumlah kriteria (3). Lihat rumus dan angka di bawah ini :
    Mencari t
    Mencari t
    Sehingga t = 3.895
    Langkah 3:
    Hitung Consistency Index (CI) dengan cara mengurangkan t di atas dengan jumlah kriteria. Hasilnya dibagi lagi dengan jumlah kriteria.
    CI = (t-n)/n —> (3.985-4)/4 = -0.0375
    Langkah 4:
    Hitung Consistency Ratio (CR) dengan cara CI/RI. RI didapatkan dari tabel. Lihat tabel di bawah ini :
    Tabel Nilai RI
    Tabel Nilai RI
    Karena contoh kasus ini menggunakan hanya 3 kriteria artinya RI kita pakai 3 yaitu 5.8.
    Sehingga CR= -0.0375/5.8 = -0.000647
    Langkah 5:
    Cek hasilnya, jika CR kurang dari 0.1 maka hasilnya bisa disebut konsisten. JIka tidak konsisten, matrik berpasangannya harus diulang untuk dibuat.

Sistem Pendukung Keputusan dengan Metode Topsis

  Metode TOPSIS (Technique For Others Reference by Similarity to Ideal Solution) adalah salah satu metode pengambilan keputusan multikriteria yang pertama kali diperkenalkan oleh Yoon dan Hwang (1981). TOPSIS menggunakan prinsip bahwa alternatif yang terpilih harus mempunyai jarak terdekat dari solusi ideal positif dan terjauh dari solusi ideal negatif dari sudut pandang geometris dengan menggunakan jarak Euclidean untuk menentukan kedekatan relatif dari suatu alternatif dengan solusi optimal. Metode  ini  merupakan  salah  satu  metode  yang  banyak  digunakan  untuk menyelesaikan pengambilan  keputusan  secara  praktis.  TOPSIS  memiliki  konsep dimana alternatif  yang terpilih merupakan alternatif terbaik  yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif dan jarak terjauh dari solusi ideal negatif . Semakin  banyaknya  faktor  yang  harus  dipertimbangkan  dalam  proses pengambilan  keputusan,  maka  semakin  relatif  sulit  juga  untuk  mengambil keputusan  terhadap  suatu  permasalahan.  Apalagi  jika  upaya  pengambilan keputusan  dari  suatu  permasalahan  tertentu,  selain  mempertimbangkan  berbagai faktor/kriteria  yang  beragam,  juga  melibatkan  beberapa  orang  pengambil keputusan.
    Permasalahan  yang  demikian  dikenal  dengan  permasalahan  multiple criteria decision making  (MCDM).  Dengan kata lain, MCDM juga dapat disebut sebagai  suatu  pengambilan  keputusan  untuk  memilih  alternatif  terbaik  dari sejumlah  alternatif  berdasarkan  beberapa  kriteria  tertentu.  Metode  TOPSISdigunakan  sebagai  suatu  upaya  untuk  menyelesaikan  permasalahan  multiple criteria  decision  making.  Hal  ini  disebabkan  konsepnya  sederhana  dan  mudah dipahami, komputasinya  efisien  dan  memiliki  kemampuan  untuk  mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan. 

    Langkah-langkah Metode TOPSIS
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan menggunakan metode TOPSIS adalah sebagai berikut :

  1. Menggambarkan  alternatif  (m)  dan  kriteria  (n)  ke  dalam  sebuah  matriks, dimana  Xij adalah  pengukuran  pilihan  dari  alternatif  ke-i  dan  kriteria  ke-j.Matriks ini dapat dilihat pada persamaan satu. matriks1 
  2. Membuat matriks R yaitu matriks keputusan ternormalisasi Setiap  normalisasi  dari  nilai  rij dapat  dilakukan  dengan  perhitungan menggunakan persamaan dua. matriks2
  3. Membuat pembobotan pada matriks yang telah dinormalisasi Setelah dinormalisasi, setiap kolom pada matriks R dikalikan dengan bobotbobot (wj) untuk menghasilkan matriks pada persamaan tiga. matriks3
  4. Menentukan nilai solusi ideal positif dan solusi ideal negatif. Solusi ideal dinotasikan A+, sedangkan solusi ideal negatif dinotasikan A-. Persamaan untuk menentukan solusi ideal dapat dilihat pada persamaan empat. matriks4
  5. Menghitung separation measure. Separation measure ini merupakan
    pengukuran jarak dari suatu alternatif ke solusi ideal positif dan solusi ideal
    negatif.
    –  Perhitungan solusi ideal positif dapat dilihat pada persamaan lima : matriks5
    –  Perhitungan solusi ideal negatif dapat dilihat pada persamaan enam :matriks6
  6. Menghitung  nilai  preferensi  untuk  setiap  alternatif. Untuk  menentukan ranking tiap-tiap alternatif yang ada maka perlu dihitung terlebih dahulu nilai preferensi  dari  tiap  alternatif.  Perhitungan  nilai  preferensi  dapat  dilihat melalui persamaan tujuh. matriks7Setelah  didapat  nilai  Ci+,  maka  alternatif  dapat  diranking  berdasarkan urutan  Ci+.  Dari  hasil  perankingan  ini  dapat  dilihat  alternatif  terbaik  yaitu alternatif yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal dan berjarak terjauh dari solusi ideal negatif.

Pengambilan Keputusan Pada Sistem Pendukung Keputusan

Pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan alternative tindakan untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Pengambilan keputusan dilakukan dengan pendekatan sistematis terhadap permasalahan melalui proses pengumpulan data menjadi informasi serta ditambah dengan faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. 

A. Jenis Keputusan 
1. Keputusan Terprogram (programmed decision)
    Keputusan yang terprogram adalah keputusan yang terstruktur atau yang muncul berulang – ulang.  Misalnya dalam memutuskan jumlah bahan baik yang harus tersedia digudang, tidak bisa terlepas    dari proses perhitungan yang biasa digunakan. 
2. Keputusan Tidak Terprogram (non-progrmmed decision)
    Keputusan yang tidak terprogram apabila keputusan baru pertama kali muncul dan tidak tersusun (unstructured). Keputusan semacam itu memerlukan penanganan khusus, untuk memecahkan masalah, karena belum ada pedoman khusus dalam menangani masalah tersebut.
B.Keputusan dan Jenjang Manajemen 
Secara umum tingkatan manajemen dalam organisasi itu ada 3, yaitu:
1. Manajer Puncak (top manager)
Adalah manajer yang bertanggungjawab atas seluruh manajemen dari organisasasi mereka menetapkan kebijakan operasional dan pedoman interaksi organisasi dengan lingkungannya.
2. Manajer Menengah (middle manager)
Adalah manajer yang berada ditengah-tengah dalam hierarkhi organisasi.
3. Manajer Rendah (lower manager)
Adalah manajer yang bertanggungjawab terhadap pekerjaan karyawan operasional saja dan tidak membawahkan manajer lain.
Untuk keputusan yang tidak terprogram, biasanya lebih banyak diambil oleh manajer pada tingkat tinggi (top manager). 
C. Tahap – Tahap Pengambilan Keputusan 
Sebagai dalam proses pengambilan keputusan, model tersebut memuat tiga tahap pokok, yaitu sebagai berikut :

  1. Riset, yaitu mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan keputusan.
  2. Perancangan, yaitu mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang mungkin.
  3. Pemilihan, yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dari totalitas yang ada.

Menurut Simon (1960) ada beberapa tahap pengambilan keputusan, disebutkan olehnya proses pengambilan keputusan ada 4 tahapan yakni :

  1. Intelligence : pengumpulan informasi untuk mengindetifikasikan permasalahan.
  2. Design : tahap perancangan solusi dalam bentuk alternatif pemecahan masalah.
  3. Choice : tahap memilih dari solusi dari alternatif  –  alternatif yang disediakan.
  4. Implementation : tahap melaksanakan keputusan dan melaporkan hasilnya.
    Sedangkan menurut James L. Gibson, dkk mengemukakan proses pengambilan keputusan seluruhnya terdiri atas enam tahapan. Apabila ditetapkan kebijakan untuk menangani masalah yang identik, maka manajer tidak dituntut untuk mengembangkan dan mengevaluasi setiap munculnya masalah.


     Tahap 1. Intelligence 
     Indetifikasi Dan Definisi Masalah
    Tahap ini meliputi kegiatan pengambilan informasi, proses informasi, dan pertimbangan yang mendalam. Organisasi dapat diukur dengan perbedaan antara tingkat hasil yang diharapkan pada perumusan tujuan dan sasaran dengan hasil yang dicapai sesungguhnya. Beberapa indikator lain yang dapat membantu dalam melihat permasalahan organisasi adalah sebagai berikut :
    1.         Penyimpangan kinerja
    Indikator ini muncul apabila terjadi sebua perubahan secara tiba – tiba  pada beberapa pola  kinerja    yang telah ditetapkan. Contohnya,  meningkatnya perputaran karyawan, tingkat absensi yang meningkat, penurunan tingkat penjualan, pengeluaran yang semakin meningkat, dan banyaknya produk yang rusak.
    2.        Kritikan orang lain
    Berbagai tindakan orang diluar organisasi bisa menjadi pentujuk adanya masalah. Pelanggan mungkin tidak puas dengan sebuah produk yang dikomsumsi, pemerintah memberikan tindakan hukum, dan serikat buruh yang mungkin memberikan keluhannya.
    3.        Lingkungan
    Lingkungan dapat memberi informasi masalah melalui berbagai cara. Contoh,  jika pesaing sukses dalam meluncurkan produk baru yang menjadi pesaing produk organisasi, maka timbul suatu masalah.
    D. Tipe – Tipe Masalah  
    1. Masalah Terstruktur dan Tidak Terstruktur
    Masalah–masalah  terstruktur (structured problems) merupakan masalah pada umumnya, terus terang dan jelas dalam hal informasi yang membutuhkan untuk menyelesaikanya. Sebagai contoh, masalah–masalah  pribadi biasanya terjadi ketika pembuatan keputusan kenaikan gaji dan promosi permintaan liburan, tugas-tugas kepanitian, dan sebagainya.
    Masalah tidak terstruktur (unstructured problems) merupakan masalah yang membingungkan dan memiliki informasi yang terbatas dalam situasi yang baru atau tidak terduga. Contohnya, perusahaan dihadapi pada problem dimana unit bisnisnya terpaksa dijual karena hilangnya pelanggan.
      Tahap 2. Design 
    a. Mengembangkan Alternatif Pemecahan
    Pengembangan alternatif merupakan proses pencarian dimana lingkungan intern dan ekstern yang relavan dari organisasi diperiksa untuk memberikan informasi yang dapat dikembangkan menjadi alternatif yang mungkin. Namun demikian, manajer harus ingat akan beberapa keterbatasan dalam setiap alternatif, misalnya keterbatasan dalam masalah hukum, etika, peraturan yang ada.
    b. Evaluasi Alternatif Pemecahan
    Pada situasi yang lain, manajemen lebih sering menghadapi situasi dengan kepastian yang tinggi. Dalam hal ini tidak mudah memperkirakan konsekuesin dari keputusan. Situasi resiko dengan tidak pasti berada diantara dari ekstern tersebut.
    Oleh karena itu hubungan antara alternatif keluaran didasarkan pada tiga kondisi tersebut adalah :

    1. Kondisi kepastian.
    2. Kondisi berisiko.
    3. Kondisi ketidakpastian.

      Tahap 3. Choice
      a. Memilih Alternatif
      Tahap ke empat merupakan tindakan terpenting yaitu memilih alternatif terbaik diantara alternatif – alternatif  yang telah dinilai dan di evaluasi. Tujuan pemilihan alternaif adalah memecahka masalah agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Walaupun manajer sebagai pengambil keputusan memilih alternatif dengan harapan mencapai sasaran, tetapi memilih tersebut seharus tidak dipandang sebagai suatu aktifitas yang mandiri.

      Tahap 5. Implementation
      a. Implementasi Keputusan
      Implementasi mencakup pencapaian keputusan itu kepada orang–orang  yang terkait dan mendapatkan komitmen mereka pada keputusan tersebut.
      Oleh karena itu pekerjaan manajer tidak hanya terbatas pada keterampilan memilih pemecahan yang baik, akan tetapi meliputi juga pengetahuan dan keterampilan yang perlu untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut menjadi perilaku dalam organisasi.
      b. Evaluasi dan Pengendalian
      Tahap terakhir adalah monitor dan evaluasi. Tahap ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa pelaksanaan keputusan yang diambil mengenai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Jika ternyata tujuan tidak tercapai, manajer dapat melakukan respon dengan cepat. 
      E. Gaya dan Model Pengambilan Keputusan 
      Gaya Manajer dalam pengambilan keputusan akan banyak diwarnai oleh beberapa hal seperti latar belakang pengetahuan, perilaku pengalaman, dan sejenisnya. Cara-cara manajer dala mendekati masalah tersebut antara lain :
      Penghindar Masalah
      Seorang penghindari masalah mengabaikan informasi yang menunujukkan kesebuah masalah. Para penghindari masalah ini tidak aktif dan tidak ingin menghadapi masalah.
      Penyelesian Masalah
      Seorang penyelesaian masalah mencoba menyelesaikan masalah-masalah apabila masalah-masalah itu muncul. Mereka bersikap reaktif menghadapi masalah-masalah yang timbul.
      Pencarian Masalah
      Seorang pencari masalah secara aktif mencari masalah-masalah guna diselesaikan atau mencari peluang-peluang baru untuk dikejar.

      F. Peranan Individu dan Kelompok dalam Pengambilan Keputusan 

      Pada tingkat individual, kemampuan seorang pengambil keputusan sangat bergantung pada tingkat kemahirannya menggabungkan dan mengkolaborasikan antara pendekatan ilmiah, daya fikir kreatif intuitif dan emosional. Dalam keputusan individual, manager membuat pilihan tindakan yang disukai. Beberapa faktor perilaku hanya mempunyai aspek–aspek  tertentu dari proses pengambilan keputusan.
      Faktor tersebut adalah :

      1. Kepribadian,
      2. Nilai,
      3. Kencendrungan akan resiko, dan
      4. Kemungkinan ketidakcocokkan.
        Kepribadian
        Satu penelitian telah berusaha pengaruh dari beberapa variable terpilih teradap proses pengambilan kepriadian, tetapi memasukan juga rangkaian variable lain yaitu :
        Variabel kepribadian, Hal ini mencakup sikap, kepercayaan individu.
        Variabel situasional, Menyinggung situasi ekstern, yang dapat diamati, yang dihadapi oleh orang – orang  itu sendiri.
        Variabel interaksional, Hal ini menyinggung keadaan pada saat itu dari orang-orang sebagai akibat dari interaksi situasi tertentu dengan ciri-ciri khas kepribadian orang.
        Nilai
        Nilai itu diperoleh pada waktu orang masih muda sekali dan merupakan bagian dasar dari pikiran seseorang. Pengaruh itu dapat dilihat dari setiap proses pengambilan keputusan manajemen sebagai berikut :

        1. Dalam menetapkan sasaran, pertimbangan nilai perlu sekali mengenai pemilihan kesepatan dan penentuan prioritas.
        2. Dalam mengembangkan alterntif, orang perlu mempertimbankan nilai berbagai macam kemungkinan.
        3. Apabila memilih alternatif, nilai dari orang yang mengambil kputusan memperngaruhi alternatif manakah yang akan dipilih.
        4. Apabila melaksanakan keputusan, pertimbangan nilai sangat perlu dalam memilih cara pelaksanaanya.
        5. Dalam fase evaluasi dan pengendalian, pertimbangan nilai tidak dapat dihindari apabila mengambil tindakan.
        6. Kecenderungan Akan Resiko
          Seseorang pengambil keputusan yang agak segan mengambil resiko akan menetapkan sasaran yang bebeda, mengavaluasi alternatif secara berbeda juga. Orang tersebut akan berusaha menetapkan pilihan dimana resiko atau ketidakpastian sangat rendah, atau diana kepastian akan hasilnya sangat tinggi.
          Kemungkinan ketidak Cocokan
          Apabila terjadi ketidak cocokan, maka tentu saja ketidak cocokan ini dapat dikurangi dengan mengakui bahwa telah terjadi kesalahan. Orang tesebut lebih memungkinkan menggunakan satu atau beberapa metode berikut ini untuk mengurangi ketidak cocokan mereka :

          1. Mencari informasi yang mendukung kebijaksanaan dari keputusan mereka.
          2. Secara selektif memahami (mengubah) informasi dengan suatu cara yang dapat mendukung keputusan mereka.
          3. Merubah siap mereka, sehingga mereka memiliki pandangan yang baik terhadap alternatif yang telah ditetapkan sebelumnya.
          4. Mengelakan pentingnya segi – segi  postif dan mempertinggi unsur – unsur  positif dari keputusanya.
            Sedangkan di dalam praktek dilapangan peranan kelompok lebih dominan. Terutama seorang manajer di organisasi / perusahaan modern, terutama yang besar dan kompleks, pengambilan keputusan tidak mungkin lagi hanya oleh seorang manajer, walaupun manajer memiliki tingkat kemampuan dan kemahiran tinggi. Artinya, kemampuan seorang manajer akan bergantung pula pada tingkat keterampilannya melibatkan kelompok dalam organisasi. Biasanya seorang manajer akan mengadakan pertemuan (meeting) ketika ia hendak mengambil sebuah keputusan, terutama yang berkaitan dengan organisasi.
            Pertemuan (meeting) adalah salah satu cara yang efektif dalam proses pengambilan keputusan, mulai dari indentifikasi masalah, pengumpulan analisis data, pengkajian berbagai alternatif, dan pemilihan salah satu alternatif yang dipandang paling mungkin mendatangkan manfaat yang paling besar, atau kerugian terkecil apabila kerugian itu tidak dapat dihindari.
            Berikut beberapa alasan mengapa keterlibatan kelompok dalam pengambilan keputusan dirasa penting oleh organisasi :
            1.  Hasil Kerja Kelompok
            Apabila para anggota kelompok tertentu mampu mengemukakan pendapat dan gagasanya secara meyakinkan, maka petukaran pikiran akan terjadi antar anggota kelompok. Dan pertukaran yang terjadi akan menimbulakan gagasan baru yang dapat dimanfaatkan oleh semua anggota kelompok.
            2.  Masukan yang Beraneka Ragam
            Karena keterlibatan banyak orang, biasanya berbagai sumber daya dimanfaatkan, misalkan dalam bentuk waktu, tenaga, pikiran dan sebagainya. Dengan begitu akan di dapat beraneka ragam masukan yang bisa dijadikan referensi dalam pengambilan keputusan.
            3.  Pemanfaatan Berbagai Pengetahuan
            Seperti yang kita ketahui bahwa organisasi modern memiliki kompleksitas yang tinggi, dapat dilihat dari segi tujuan, jenis kegiatan, sasaran dan jumlah orng yang terlibat. Mereka juga memiliki tenaga – tenaga profesional sesuai bidangnnya masing – masing. Tenaga – tenaga profesional inilah yang menjadi sumber – sumber pengetahuan, karena jumlah pengetahuan yang dimiliki seluruh anggota kelompok pasti jauh lebih besar dari pengetahuan yang dimiliki  orang perorang, oleh karena itu pemanfaatannya dalam pengambilan keputusan tentu lebih besar pula.
            4.      Keterikatan Pada Keputusan yang Diambil
            Salah satu kunci keberhasilan dalam pelaksanaan suatu keputusan terletak pada keterikatan orang – orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan, dalam rangka melaksanakan keputusan dengan sebaik – baiknya. Dengan mengikutsertakan berbagai pihak yang terkait yang akan memegan peranan kunci dalam pelaksanaan, akan mengurangi oposisi (penolakan) yang mungkin timbul. Dan mendorong perkembangan suasana saling pengertian yang pada akhirnya akan menghasilkan keputusan yang efektif.
            5.      Meningkatnya Mutu Keputusan yang Diambil
            Kelompok – kelompok yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan biasanya harus mencapai kesepakatan tentang keputusan yang diambil. Artinya, keputusan yang diambil adalah keputusan kelompok, bukan keputusan individu. Sehingga jika ada perbedaan – perbedaan bahkan penentangan cara – cara yang akan ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang di kemukakan anggota kelompok. Orang – oang tersebut harus taat kepada hasil musyawarah. Dengan demikian mutu keputusan yang diambil akan meningkat.

            G. Kendala dan Alat Bantu Pengambilan Keputusan

            Tak dapat dipungkiri bahwa penggabungan yang paling tepat sekalipun antara pendekatan ilmiah dan pemikiran yang kreatif, intuitif dan pengalaman, dala proses pengambilan keputusan tetap mengandung resiko ketidakberhasilan. Keputusan yang diambil bisa saja tidak tepat, meleset atau bahkan mungkin salah sama sekali.
            Dengan kata lain, banyak manajer yang menjadi tidak efektif dalam mengambil keputusan karena menghadapi banyak kendala dalam proses pengambilan keputusan itu sendiri. Berikut beberapa kendala yang sering dihadapi seorang manajer :
            1. Kegagalan di Masa Lalu
            Dalam perjalanan karir seorang manajer, tidak ada sorang pun yang mencapai nilai keberhasilan seratus persen. Asa saja tindakan dan keputusan yang diambil yang tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Pengalaman pahit yang dialami di masa lalu menghantui sesorang sehingga ia menjadi takut dan ragu dalam mengambil keputusan.
            2. Faktor Ketidakpastian
            Tak dapat dipungkiri bahwa katidakpastian merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam mengambil sebuah keputusan. Oleh karena itu, kemampuan memperhitungkan dan mengatasi ketidakpastian akan mempengaruhi tingkat efektivitas seorang pengambil keputusan. Ketidak pastian menjadi kendala karena :pertama, Mungkin kurangnnya keyakinan dalam diri manajer tentang hasil yang akan diperoleh. Kedua, manajer yang bersangkutan ragu, apakah keputusan baru diperlukan ?.
             3. Kemalasan
            Karena wewenang yang dimiliknya, tidak sedikit manajer yang gemar mencari “kambing hitam” untuk menutupi kekurangan dalam menjatuhkan pilihan yang dipandang tepat. Memang sifat yang manusiawi apabila dalam keberhasilan, seorang menepuk dada, seolah – olah keberhasilan itu berkat kemampuan orang yang bersangkutan. Begitu juga sebaliknya, dalam mengahadapi ketidakberhasilan dan kegagalan, orang yang sama akan dengan cepat mengelak dari tanggung jawab dan menuding orang lain sebagai “biang keladi” nya. Sifat yang demikian dapat menjadi kendala.
            Disamping kendala, ada juga beberapa alat bantu yang biasa digunakan seorang manajer dalam mengambil keputusan, yang terus dikembangkan oleh para ahli dibidangnya.
            1.      Analisis Sistem
            Cara ini lebih menekankan pada sikap mental seorang manajer dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dewasa ini analis siste telah berkembang sedemikian rupa sehingga ia sudah terdiri dari serangkaian tata cara formal untuk meneliti suatu permasalahan.
            Dalam praktek, alanisis sistem berkaitan dengan meneliti berbagai bagian dari sesuatu. Bagaimana proses, unsur, komponen, dan fungsi yang berkaitan satu sama lain, dan bagaimana masing – masing memberi sumbangannya demi bekerjanya sistem yang bersangkutan.
            2.      Pemanfaatan Teknologi Komputer
            Saat ini perkembangan teknologi komputer sangat pesat. Dalam kurun waktu beberapa tahun saja, komputer telah berkembang menjadi lebih sempurna dan sempurna lagi. Dulu, komputer sulit untuk dibawa kemana – mana. Namun kini, komputer sudah bisa di “sulap” menjadi laptop (komputer jinjing) yang bisa di bawa kemana – mana.
            Mungkin orang berpendapat, bahwa dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, ruang lingkup pengambilan keputusan oleh manusia akan semakin menyempit keran banyak langkah dalam proses pengambilan keputusan yang dapat diserahkan kepada mesin – mesin hasil perkembangan teknologi.
            Terlepas dari hal itu, menurut Prof. Dr. S.P. Siagian, perkembangan komputer dapat membantu seorang manajer dalam mengambil keputusan. Karena hampir semua keputusan diambil lewat berbagai kalkulasi yang rumit, bayangkan jika manusia yang melakukan kalkulasi yang sebegitu rumitnya. Tentu akan memakan waktu yang tak sebentar. Dengan adanya komputer, kecepatan menjadi faktor utama mengapa komputer dapat dijadikan alat bantu dalam mengambil sebuah keputusan.
            Kecanggihan komputer tak lantas membuat manajer menajdi bergantung padanya. Sejatinya komputer hanyalah alat. Kemampuan berfikir, intuisi, dan inovasi adalah modal utama yang harus dimiliki setiap manajer. Tanpa itu, alat secanggih komputer tidak berarti apa – apa.
            3.      Pohon Keputusan
            Salah satu alat yang dewasa ini banyak digunakan oleh manajer. Popularitas alat bantu ini bersumber dari kenyataan, bahwa alat ini relatif mudah di ciptakan. Keuntungan utamanya adalah letak pada kemampuannya menyajikan satu jaringan visual, yang menunjukan secara jelas bagaiaman pilihan yang mungkin ditempuh menjadi bagian – bagian yang lebih kecil, masing – masing dengan probabilitas dan preferensinya.

            Komponen dan Pemanfaatan DSS (Decision Support System)

            A. Definisi DSS 

            Sistem pendukung keputusan atau Decision Support System (DSS) merupakan sebuah alat bantu yang menggunakan aplikasi sistem informasi berbasis komputer. DSS ini digunakan manajer untuk memecahkan masalah semi struktur, dimana manajer dan komputer harus bekerja sama sebagai tim pemecah masalah dalam memecahkan masalah yang berada diarea semi struktur.
            Tujuan dari DSS adalah sebagai berikut:
                membantu manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah semi struktur.
                mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya.
                meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan manajer daripada efisiensinya.
            Jenis-jenis DSS menurut tingkat kerumitan dan tingkat dukungan pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut:
            •     mengambil elemen-elemen informasi.
            •     menaganalisis seluruh file.
            •     menyiapkan laporan dari berbagai file.
            •     memperkirakan dari akibat keputusan.
            •     mengusulkan keputusan.
            •     membuat keputusan.
            Secara garis besar DSS dibangun oleh tiga komponen besar:
            1) Database
            2) Model Base
            3) Software System

            Sistem database berisi kumpulan dari semua data bisnis yang dimiliki perusahaan, baik yang berasal dari transaksi sehari-hari, maupun data dasar (master file). Untuk keperluan DSS, diperlukan data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan melalui simulasi.
            Komponen kedua adalah Model Base atau suatu model yang merepresentasikan permasalahan ke dalam format kuantitatif (model matematika sebagai contohnya) sebagai dasar simulasi atau pengambilan keputusan, termasuk di dalamnya tujuan dari permasalahan (obyektif), komponen komponen terkait, batasan-batasan yang ada (constraints), dan hal-hal terkait lainnya.
            Kedua komponen tersebut untuk selanjutnya disatukan dalam komponen ketiga (software system), setelah sebelumnya direpresentasikan dalam bentuk model yang “dimengerti” komputer . Contohnya adalah penggunaan teknik RDBMS (Relational Database Management System), OODBMS (Object Oriented Database Management System) untuk memodelkan struktur data. Sedangkan MBMS (Model Base Management System) dipergunakan untuk mere-presentasikan masalah yang ingin dicari pemecahannya. Entiti lain yang terdapat pada produk DSS baru adalah DGMS (Dialog Generation and Management System), yang merupakan suatu sistem untuk memungkinkan terjadinya “dialog” interaktif antara komputer dan manusia (user) sebagai pengambil keputusan. 

            B. Pemanfaatan dalam Dukungan Pengambilan Keputusan (DSS) 
            Proses perencanaan, analisis pada saat evaluasi diri, dan pengambilan berbagai keputusan secara bertahap semakin mendapat dukungan dari pengembangan DSS ini, sehingga dapat lebih objektif.

            Dalam berbagai proses manajemen, termasuk manajemen akademik, proses pengambilan keputusan telah banyak bergantung pada DSS yang telah dikembangkan, seperti pada saat keputusan penerimaan mahasiswa baru, evaluasi prestasi akademik, yudisium, dan penentuan mahasiswa berprestasi.

            Hal ini dimungkinkan karena tersedianya berbagai pangkalan data pada semua aspek manajemen perguruan tinggi. Tentunya pendalaman dan perluasan jenis data dan pengembangan relasi antar data sehingga menghasilkan informasi yang lebih kaya perlu terus ditingkatkan untuk semakin meningkatkan daya dukung DSS yang telah dikembangkan.

            Pangkalan data sistem infomasi Universitas Brawijaya merupakan basis data yang tersimpan dalam sekelompok server. Basis data utama fakultas dan seluruh unit kerja tersimpan dalam server yang dikelola oleh Direktorat Sistem Informasi yang terletak di gedung UUPTI dan Rektorat Universitas Brawijaya. Berbagai basis data lainnya juga dikembangkan oleh fakultas dan unit kerja sesuai dengan aktivitas dan arah pengembangan masing-masing dengan penerapan koordinasi matriks kepada unit lain yang terkait. Pangkalan data utama meluputi sebagai berikut.

            • Basis data akademik yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi Akademik (SIAKAD), termasuk di antaranya basis data penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (aplikasi SIPEN dan aplikasi SIPEMAS)
            • Basis data sumber daya manusia / ketenagaan yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi Ketenagaan (SINAGA), termasuk di antaranya basis data presensi/absensi pegawai (aplikasi Absensi sidik jari)
            • Basis data aset / sarana-prasarana yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi SARANA-PRASARANA (SINAPRA)
            • Basis data keungan yang dikelola dalam kelompok aplikasi Sistem Informasi Keuangan (SIAKEU)
            • Basis data kemitraan / kerjasama yang dikelola dalam aplikasi Sistem Informasi Kerjasama (SIKERSA)
                 C. Dampak Pemanafaatan DSS

                Dampak utama pemanfaatan DSS antara lain:

            • Dapat menyelesaikan problem yang kompleks.
            • Sistem dapat berinteraksi dengan pemakainya.
            • Lebih cepat dengan hasil yang lebih baik (terutama dibandingkan dengan pengambilan           keputusan secara intuisi).
            • Menghasilkan acuan data untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh manajer yang kurang berpengalaman.Untuk masalah yang berulang, DSS dapat memberi keputusan yang lebih efektif.
            • Fasilitas untuk mengambil data dapat memberikan kesempatan bagi beberapa manajer untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
            •  Meningkatkan produktivitas dan kontrol dari manajer.
                 D. Faktor Pendukung DSS

                Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan secara kelompok, seperti terlihat pada gambar Pengambilan keputusan yang baik harus memperhatikan beberapa faktor, diantaranya:

            • Karakteristik dari kelompok itu sendiri.
            • Kemampuan kelompok dalam memecahkan suatu masalah.
            •  Kondisi organisasi.
            • Menggunakan aplikasi Computer Base Information System (CBIS) untuk lingkungan kelompok, seperti: Electronic Meeting System (EMS) dan Group Decision Support System (GDSS). Sistem Pendukung Keputusan Kelompok (group decision support system), atau GDSS adalah suatu sistem berbasis komputer yang mendukung kelompok-kelompok orang yang terlibat dalam suatu tugas (tujuan) bersama dan yang menyediakan interface bagi suatu lingkungan yang digunakan bersama.

            Metode Weighted Product WP dalam Sistem Pendukung Keputusan (SPK)

            Metode Weight Product (WP)
             Metode  WP  mengunakan perkalian untuk menghubungkan rating atribut, di mana rating setiap atribut harus dipangkatkan dulu dengan bobot atribut yang bersangkutan.
             Proses ini Ai diberikan sebagai berikut :
             rumus
             Dimana  ∑wj =  1.  wj  adalah  pangkat  bernilai  positif  untuk  atribut  keuntungan,  dan bernilai negatif untuk atribut biaya.
             Preferensi relatif dari setiap alternatif, diberikan sebagai:
             rumus1
             Contoh kasus :
            Misalkan nilai setiap alternatif pada setiap atribut diberikan berdasarkan data riil yang ada seperti pada Tabel 2.1, perlu diidentifikasi terlebih dahulu jenis kriterianya, apakah termasuk kriteria keuntungan atau kriteria biaya.

             

            Rating kecocokan dari setiap alternatif pada setiap kriteria
            (Kusumadewi, Hartati, Harjoko, dan Wardoyo, 2006: 78)
             
            tabel
             
            Kriteria C2 (kepadatan penduduk di sekitar lokasi) dan C4 (jarak dengan gudang  yang sudah  ada)  adalah  criteria  keuntungan.  Sedangkan  kriteria  C1(jarak  dengan  pasar terdekat), C3 (jarak dari pabrik), dan C5 (harga tanah untuk lokasi) adalah kriteria biaya.Permasalahan kasus di atasakan di selesaikan dengan menggunakan metode  Weighted Product (WP). Sebelumnya akan dilakukan perbaikan bobot terlebih dahulu. Bobot awal W = (5, 3, 4, 4, 2), akan diperbaiki sehingga total bobot ∑Wj = 1, dengan cara :
             
            rumus2
             
            Kemudian vektor S dihitung berdasarkan persamaan rumus6 dengan i = 1, 2, … ,m sebagai berikut :
             
            rumus3
             
            Nilai  vektor  yang  akan  digunakan  untuk  perankingan  dapat  dihitung  berdasarkan persamaan
             
            rumus4
             
            rumus5
            Nilai terbesar ada pada V2  sehingga alternatif A2 adalah alternatif yang terpilih sebagai alternatif  terbaik.  Dengan  kata  lain,  alternatif  A2 akan  terpilih  sebagai  lokasi  untuk mendirikan gudang baru.

            Metode Simple Additive Weighting SAW

            Metode Simple Additive Weighting (SAW) sering juga dikenal istilah metode penjumlahan terbobot.
            Konsep dasar metode SAW adalah mencari penjumlahan terbobot dari rating kinerja pada setiap alternatif pada semua atribut (Fishburn, 1967) (MacCrimmon, 1968).
            Metode SAW membutuhkan proses normalisasi matriks keputusan (X) ke suatu skala yang dapat diperbandingkan dengan semua rating alternatif yang ada. Metode ini merupakan metode yang paling terkenal dan paling banyak digunakan dalam menghadapi situasi Multiple Attribute Decision Making (MADM). MADM itu sendiri merupakan suatu metode yang digunakan untuk mencari alternatif optimal dari sejumlah alternatif dengan kriteria tertentu.
            Metode SAW ini mengharuskan pembuat keputusan menentukan bobot bagi setiap atribut. Skor total untuk alternatif diperoleh dengan menjumlahkan seluruh hasil perkalian antara rating (yang dapat dibandingkan lintas atribut) dan bobot tiap atribut. Rating tiap atribut haruslah bebas dimensi dalam arti telah melewati proses normalisasi matriks sebelumnya.
             Langkah Penyelesaian Simple Additive Weighting (SAW)
             Langkah Penyelesaian SAW sebagai berikut :
            1. Menentukan kriteria-kriteria yang akan dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan, yaitu Ci.
            2. Menentukan rating kecocokan setiap alternatif pada setiap kriteria.
            3. Membuat matriks keputusan berdasarkan kriteria(Ci), kemudian melakukan normalisasi matriks berdasarkan persamaan yang disesuaikan dengan jenis atribut (atribut keuntungan ataupun atribut biaya) sehingga diperoleh matriks ternormalisasi R.
            4. Hasil akhir diperoleh dari proses perankingan yaitu penjumlahan dari perkalian matriks ternormalisasi R dengan vektor bobot sehingga diperoleh nilai terbesar yang dipilih sebagai alternatif terbaik (Ai)sebagai solusi.
             Formula untuk melakukan normalisasi tersebut adalah : 1
            Dimana :
            rij = rating kinerja ternormalisasi
            Maxij = nilai maksimum dari setiap baris dan kolom
            Minij = nilai minimum dari setiap baris dan kolom
            Xij = baris dan kolom dari matriks
            Dengan rij adalah rating kinerja ternormalisasi dari alternatif Ai pada atribut Cj; i =1,2,…m dan j = 1,2,…,n.
            Nilai preferensi untuk setiap alternatif (Vi) diberikan sebagai : 2
            Dimana :
            Vi = Nilai akhir dari alternatif
            wj = Bobot yang telah ditentukan
            rij = Normalisasi matriks
            Nilai Viyang lebih besar mengindikasikan bahwa alternatifAi lebih terpilih
             Contoh Kasus
             16-01-2014 10-18-15
             16-01-2014 10-18-38
             16-01-2014 10-18-46
             16-01-2014 10-18-56
             16-01-2014 10-19-06
             16-01-2014 10-19-14
             16-01-2014 10-19-24